Dari Abu Hurairah RA, sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda: “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.” (H.R Muslim) -Riyadhus Shalihin Kitabul Ilmi Al Imam An Nawawi-

Recent Posts

PSB 2013

Penerimaan Santri Baru PESMA Al Mukmin 2013.

Rihlah Dakwah

Rekreasi seusai Idul Adha 1433 H

Outbond Santri TPQ Al Haromain 2013

Outbond Santri TPQ Al Haromain di Bedengan, Kecamatan Dau, Malang

Manasik Haji 1433 H

Sebagai praktek pembelajaran dan penghormatan untuk ibadah jamaah Haji di Tanah Suci.

Gedung Pesantren Mahasiswa Al Mukmin

Jalan Mandalawangi 9 Malang Telp. 0341-561954

Minggu, 13 Juli 2014

Isyarat Kewafatan Abuya As-Sayyid Muhammad Al-Maliki

 Detik-detik Kewafatan Abuya As-Sayyid Muhammad Al-Maliki

Al-Habib Hamid bin Zaid pernah menempuh pendidikan di Pesantren Darul Mustafa (Hadramaut Yaman) dan telah menikah dengan adik perempuan istri Sayyid Muhammad al-Maliki. Seminggu sebelum Ramadhan 1425 H, Habib Hamid menerima telepon dari Sayyid Muhammad al-Maliki di Mekah dan memintanya supaya datang ke Mekah untuk umrah dan menemuinya. Habib Hamid memenuhi undangan tersebut dan bersama istrinya segera mempersiapkan segala keperluan untuk keberangkatannya. Tiket dan visa sudah diurus oleh biro perjalanan yang ditunjuk Abuya (panggilan hormat untuk Sayyid Muhammad al-Maliki).
“Saya hanya mengurus paspor. Seluruh biaya juga ditanggung Abuya”, kata Habib Hamid.
Hari kedua Ramadhan, Sayyid Muhamad al-Maliki kembali meneleponnya. Beliau meminta Habib Hamid untuk segera terbang ke Mekah. “Kamu harus cepat menyelesaikan urusanmu, segeralah terbang ke Mekah”, pinta Sayyid Muhammad al-Maliki terkesan agak cemas.
Hari keempat Ramadhan, kembali beliau menelepon untuk memastikan Habib Hamid dan istrinya jadi berangkat. “Ketika itu Abuya bilang agar saya langsung saja terbang ke Madinah untuk berziarah ke Makam Rasulullah Saw. dan shalat di Masjid Nabawi. Sekali lagi, saat itu, beliau meminta agar secepatnya sampai di Mekah.”
Tepat pada 5 Ramadhan 1425 H, Habib Hamid dan istri terbang menuju Madinah. Di bandar udara, dijemput oleh salah seorang murid Sayyid Muhammad al-Maliki dan membawanya ke hotel yang telah disediakan. Dua hari di Madinah, kemudian terbang ke Mekah. “Saya sampai di Mekah pada tanggal 8 Ramadhan dan langsung istirahat di hotel yang disediakan Abuya. Sorenya baru dijemput oleh Habib Isa bin Abdul Qadir, salah satu murid beliau untuk menemui orang yang paling saya kagumi, Sayyid Muhammad al-Maliki al-Hasani. Sungguh tegang dan jantung berdetak lebih keras dari biasanya.”
Sore itu, seusai sholat Asar, Abuya menerima Habib Hamid di ruang kerjanya. “Beliau memelukku, mengucap selamat datang dan bertanya kabar teman dan muridnya di Indonesia, seperti Habib Abdurrahman Assegaf (Bukit Duri), Habib Abdullah al-Kaf (Tegal), KH. Abdullah Faqih (Langitan) dan ulama lainnya. Saya jawab semua baik-baik saja. Setelah itu saya kembali ke hotel. Beliau pesan, agar nanti berbuka puasa bersama dengannya”, kenang Habib Hamid.
Ketika saat berbuka puasa hampir tiba, utusan Sayyid Muhammad al-Maliki menjemput Habib Hamid. “Hamid, apa yang kau bawa dari Indonesia?” Tanya Abuya tiba-tiba, saat Habib Hamid masuk ke ruang kerjanya.
“Saya membawa dodol durian kesukaan Abuya.” jawab Habib Hamid.
Wajah Sayyid Muhammad al-Maliki tampak gembira sekali. Beliau langsung membagikan oleh-oleh itu kepada teman-teman dan muridnya yang ada di situ. Beliau juga langsung mencicipinya saat buka puasa tiba.
“Ada titipan lagi buat saya?” tanya Abuya lagi.
“Ya, saya membawa buah mangga dan kelengkeng”
Dahi Abuya berkerut. “Kelengkeng? Buah apa itu?” tanya beliau.
Habib Hamid menjelaskan buah kelengkeng dan meminta beliau mencobanya. “Abuya tampak suka sekali buah itu, dan memakannya sampai menjelang shalat Isya.” Tutur Habib Hamid.
Malam itu, tepat malam tanggal 9 Ramadhan 1425 H, Habib Hamid berkesempatan shalat Isya dan Tarawih berjamaah bersama Sayyid Muhammad al-Maliki. Saat itu ikut berjamaah beberapa ulama dari Turki, Mesir dan beberapa negara lain. Tiba-tiba Sayyid Muhamad al-Maliki memanggil Habib Hamid.
“Hamid bin Zaid, kamu jadi imam Tarawih!” kata Sayyid Muhammad al-Maliki. Habib Hamid tidak merasa namanya yang dipanggil, sebab ia merasa tidak mungkin ditunjuk menjadi imam. Sementara di situ banyak ulama besar yang pasti lebih layak menjadi imam shalat Tarawih.
Sekali lagi Sayyid Muhammad al-Maliki memanggil Habib Hamid. “Hamid bin Zaid, kamu yang akan menjadi imam.”
“Sulit dipercaya, saya yang masih muda ini ditunjuk menjadi imam. Sementara di belakang saya ada Abuya dan ulama-ulama besar yang disegani. Sungguh, saya gemetar. Membaca surah al-Fatihah yang biasanya lancar di luar kepala pun, menjadi terasa sangat sulit. Alhamdulillah, saya mampu melewati ujian berat itu dengan baik, meskipun harus gemetaran.” Habib Hamid melanjutkan ceritanya.
Selesai shalat Tarawih, Sayyid Muhammad al-Maliki membaca shalawat dan qasidah. “Menurut murid-muridnya, setiap Ramadhan, seusai shalat, beliau selalu membaca Qasidah Sayyidah Khadijah al-Kubra. Beliau juga sering berziarah ke makam istri pertama Nabi Saw. bersama keluarganya. Sebelum meninggalkan masjid, beliau memanggil dan menyuruh saya umrah malam itu juga.”
“Sebelum saya berangkat umrah, Abuya sempat menanyakan keadaan Indonesia. Beliau ingin berkunjung ke Indonesia, bertemu dengan para ulama dan murid-muridnya. Tapi wakyunya belum tepat, beliau bilang, kesibukan menulis buku dan pertemuan dengan para ulama Mekah, sangat menyita waktunya.”
Pada 10 Ramadhan, kembali Abuya memanggil Habib Hamid untuk shalat Tarawih bersama dan untuk kedua kalinya menyuruhnya umrah. “Ajaklah istrimu untuk umrah dan kembalilah untuk shalat Shubuh berjamaah, pesan Abuya sebelum saya berangkat umrah. Saya pun berpamitan sambil meminta izin untuk pergi ke Jeddah, sekadar silaturrahim ke saudara-saudara istri saya. Abuya hanya memberi izin dengan isyarat tangan dan wajah menunduk. Saya merasa, beliau tidak ingin mengizinkan saya pergi, tapi juga tidak ingin mencegah. Saya akhirnya memutuskan untuk tidak pergi ke Jeddah.”
Pagi hari tanggal 11 Ramadhan, Habib Hamid shalat Shubuh bersama bersama Sayyid Muhamad al-Maliki. Beliau terkejut saat saya berada di sampingnya. “Kamu tidak jadi pergi ke Jeddah?” tanyanya.
“Tidak Abuya”, sahut Habib Hamid.
“Bagus!” jawab Abuya sambil memeluknya.
Malamnya, seperti hari sebelumnya, Habib Hamid berjamaah shalat Tarawih yang diakhiri dengan membaca qasidah Sayyidah Khadijah al-Kubra. Malam itu juga, Habib Hamid mendapat perintah Sayyid Muhammad al-Maliki untuk umrah yang ketiga kalinya.
“Pada 12 Ramadhan, selesai shalat Isya, Abuya menyuruhku untuk umrah yang keempat kalinya. Katanya, itu adalah umrah terakhir atas perintahnya. Perasaan saya memang tak enak saat beliau mengatakan itu. Ah, mungkin beliau punya rencana lain untuk saya besok.”
Rabu 13 Ramadhan, untuk kedua kalinya, Habib Hamid ditunjuk menjadi imam Tarawih oleh Sayyid Muhammad al-Maliki. Saat itu jamaahnya sekitar 200 orang, sebagian besar adalah tamu-tamu Abuya. “Malam itu, beliau merasa letih dan kakinya kesemutan.”
Di luar kebiasaan pula, kali ini, Abuya tidak membaca sholawat dan qasidah. Beliau meminta murid-muridnya, Bilal, Burhan, Aqil al-Aththas dan satu murid asal Kenya, membacakan secara bergantian. Sayyid Muhammad al-Maliki kelihatan sangat lelah. Maklum terkadang selama hampir 24 jam terjaga. Tamunya tak pernah berhenti mengalir, dan di sela waktu luangnya, masih tekun menulis dan membaca buku. Perpustakaan di rumah tinggalnya sampai membutuhkan tiga lantai. Kamarnya juga penuh dengan buku. Selain itu, beliau juga suka berkebun, tanahnya luas. “Abuya juga punya kebun buah yang cukup luas.” Kata Habib Hamid.
Akhirnya, Abuya Sayyid Muhammad al-Maliki masuk rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan. Menurut dokter, kondisinya cukup baik, hanya perlu istirahat di rumah sakit. Pada kamis 14 Ramadhan, istri dan keluarga beliau menjenguk. “Apa kabar Hamid bin Zaid, kamu betah di sini?” tanya Abuya ambil memandangku. Seperti biasanya, wajahnya kelihatan gembira, tidak seperti orang yang sedang sakit.
“Kami tidak lama di rumah sakit, karena istri dan anak-anak Abuya akan berziarah ke Ma’la, ke makam Sayyidah Khodijah al-Kubra. Ziarah kali ini aneh. Biasanya istri Abuya tidak pernah turun dari mobil. Beliau membaca sholawat dan qasidah dari dalam mobil. Eh, hari itu beliau dan semua anggota keluarga bersama-sama membaca al-Fatihah di makam istri pertama Rasulullah Saw.” ungkap Habib Hamid.
Malamnya, murid dan kerabat beliau berkumpul di rumah akit. Wajah beliau tidak berubah, tetap gembira, seperti tidak sedang sakit. “Sekitar jam 20.00. dokter datang, dan mengatakan Abuya sudah sembuh. Kami semua memekik, Allahu Akbar!”
Saat Bulan Purnama Tersaput Awan
Di luar rumah sakit sesaat kemudian, Sayyid Muhammad al-Maliki meminta izin kepada dokter untuk menengok keluarga dan murid-muridnya. Tepat jam 00.00, beliau keluar dari rumah sakit. Sebelum masuk ke mobil, Abuya menghadap ke langit selama dua menit. Bilal, salah satu muridnya bertanya: “Ada apa, Abuya?”
Abuya al-Maliki menjawab: “Tidak ada apa-apa.”
Saat itu, seharusnya bulan sedang purnama sangat indah, namun malam itu justru tertutup awan. “Sebelumnya dalam beberapa hari terakhir, beliau selalu meminta agar murid-muridnya melihat bulan, dan bertanya apakah bulan sudah kelihatan?”
Dari rumah sakit, beliau tidak langsung ke rumah, tapi ke pondok pesantren, untuk menemui murid-murinya. Saat itu jam 03.00. “Saya sendiri yang membukakan pintu gerbang. Setelah itu, datang Sayyid Abbas, adiknya, bersama keluarga yang lain. Kami bersama-sama membaca qasidah, lalu terlibat dalam obrolan yang sesekali diselingi dengan tertawa lebar”, cerita Habib Hamid sambil mengenang peristiwa penting itu.
Pertemuan malam itu, katanya, diakhiri dengan sahur bersama. Sebelumnya, Abuya sempat bertemu kakaknya dan bikin perjanjian untuk berbuka puasa hanya dengan tiga buah kurma dan air zamzam. “Pas jam 04.00, beliau meminta semuanya istirahat dan bersiap shalat Shubuh. Beliau sendiri masuk ke kamar kerjanya.”
Di kamar itu, beliau ditemani Bilal dan Burhan. Tapi Bilal diminta keluar kamar. Saat itulah, Sayyid Muhammad al-Maliki tiba-tiba bertanya kepada Burhan. “Hai, Burhan. Aku sebaiknya istirahat di kursi atau di bumi (maksudnya karpet)?”
“Terserah Abuya.” Sahut Burhan bingung, karena tidak tahu harus menjawab Abuya. Bagaimana mungkin seorang murid memutuskan sesuatu untuk gurunya?
“Saya akan istirahat di bumi saja.” Kata Sayyid Muhammad al-Maliki.
Beliau kemudian duduk menghadap kiblat dan bersandar. Sesaat, sempat mengambil buku dari tangan Burhan. Tapi kemudian, diletakkan di meja, lalu beliau menengadah menyebut, “Lailaaha illallah….”
“Innalillahi wainna ilaihi raji’un...” hanya itu yang terucap dari mulut Burhan. Hari tepat tanggal 15 Ramadhan 1425 H atau 29 Oktober 2004, saat pagi mulai membuka kehidupan, Sayyid Muhammad bin Alawi bin Abbas al-Maliki al-Hasani wafat. Jenazah almarhum langsung dibawa ke rumah sakit. Dokter menyuruh semua keluarga dan murid-murid beliau untuk pulang ke Pondok Pesantren.
Tepat seusai shalat Shubuh, ambulan rumah sakit yang membawa jenazah Abuya, tiba di kediaman beliau. “Saya pingsan. Ya, sepertinya, pertemuan saya dengan beliau hanya untuk mengantarkan jenazahnya ke Ma’la, tempat beliau dimakamkan, dekat dengan makam Sayyidah Khadijah al-Kubra, yang qasidahnya dibaca setiap kali selesai shalat Tarawih.”
c.       Berkah Doa Al-Fatihah
Mari kita hadiahkan al-Fatihah untuk Guru kita al-‘Allamah al-Muhaddits Prof. Dr. as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani. Beliau wafatnya pada hari Jum’at, malam 15 Ramadhan di waktu sahur, wafat di saat beliau beristighfar di waktu Sahur, pada malamnya beliau tidak mengajar kitab-kitab namun banyak menceritakan perihal surga dan menyatakan hasratnya untuk bertemu dengan ayahnya, Sayyid Alawi al-Maliki.
Beliau wafat hari Jumat 15 Ramadhan 1425 H bertepatan dengan tanggal 29 Oktober 2004 M dan dimakamkan di pemakaman al-Ma’la di samping makam istri Rasulallah Saw. Khadijah binti Khuailid Ra. dengan meninggalkan 6 putra, Ahmad, Abdullah, Alawi, Ali, al- Hasan dan al-Husein dan beberapa putri-putri yang tidak bisa disebut satu persatu di sini.
Ilaa hadhrotinnabiyil musthofa rosulullah shollallohu ‘alaihi wasallam, wa ila ruuhi sayyid muhammad bin alawi al-maliki qoddasallahu sirrohu wanawwaro dloriihahu, al-Fatihah...
Dari berbagai sumber.
Sya’roni As-Samfuriy, Cibitung Bekasi 15 Ramadhan 1434 H


SYAIKHONA (شيخنا)

مع السلامة
مع السلامة فى امان شيخنا # الله ربى ارحم مربي روحنا يا ربنا
عين المحب بالدموع حازنا # روعا على افتراق ما قد اوصانا يا شيخنا
رواضنا باسوة محاسنا # شرفه الله فى جوار نبينا يا شيخنا
ونتبع عزمك وكنت متقنا # ارح ونوما كالعروس امنا يا شيخنا
فاعف اذا لم ترض من اعمالنا # دوما دعاءا ربنا اغفر شيخنايا ربنا

Selamat jalan wahai guruku. Selamat menikmati kehidupan baru dalam taman surga. Air mata penuh cinta mengiringi senyumanmu menghadap Tuhanmu. Engkau rawat kami dengan teladan yg indah. Mohon maaf jika kami tdk tumbuh seindah yg engkau bayangkan….Canda tawamu akan selalu terkenang. Istirahatlah senyaman pengantin… Semoga Allah selalu menyayangimu.

Minggu, 12 Januari 2014

Kitab-Kitab Maulid Muhammad Saw

KITAB-KITAB MAULID MUHAMMAD SAW
(KARYA MONUMENTAL PARA ULAMA)
Oleh : Sayyid Muhsin bin Ali Hamid Ba’alawi*
“Dan orang-orang yang beriman (kepada Allah) dan mengerjakan amal-amal yang saleh serta beriman (pula) kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad dan itulah yang hak dari Tuhan mereka, Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka.” 
(QS. Muhammad : 2)

Dalam kehidupan masyarakat Islam, diantaranya di Indonesia, sering diadakan suatu majelis khusus yang di dalamnya diisi dengan pembacaan suatu kitab. Membaca kembali perjalanan hidup Rasulullah Saw terutama di bulan Rabiul Awwal, bulan kelahiran Nabi Muhammad Saw sampai bulan Rabiutssani.

Diantara kitab masyhur antara lan kitab-kitab yang ditulis oleh Sayyid Ja’far Al-Barzanji, Syeikh Muhammad Al ‘Azab, Al-Imam Abdurrahman Ad-Diba’I, Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi dan lain-lain. Menceritakan sejarah hidup beliau Saw dari detik-detik kelahiran sampai wafatnya.

Masyarakat kita biasa menyebut karya-karya tersebut sebagai kitab Maulid. Hingga kini, berbagai kitab Maulid tersebar luas di berbagai pelosok dunia Islam, tak tekecuali di negeri kita. Di tiap daerah ada kitab maulid yang lebih dikenal atau lebih banyak dibaca dibandingkan yang lainnya. Karena selalu digunakan, kitab-kitab itu pun harus terus dicetak ulang dan tetap diminati orang. Baik berupa cetakan satu kitab terdiri dari satu kisah maulid, maupun kumpulan beberapa kitab Maulid (majmu’)

Kitab-kitab tersebut dibaca oleh umat Islam dalam berbagai majelis Maulid, terutama pada bulan-bulan kelahiran Nabi Saw. Sungguh kitab-kitab itu ditulis dengan keikhlasan oleh penulisnya. Semata-mata untuk mengabadikan sejarah kehidupan Rasulullah Saw sampai kehidupn berikutnya. Agar beliau terus dikenang, dicintai, dan diteladani oleh umatnya. Karenanya karya tulis mulia itu diterima dan diberkahi oleh Allah Swt. Salah satu tanda bahwa suatu amalan diterima oleh Allah Swt adalah kekal di hati masyarakat.

Bagitu juga dengan kitab Maulid sperti Al-Barzanji, Ad-Diba’i, Al’Azab, Simthud Dhurordsb., terus mendapat sambutan umat Islam dari masa ke masa. Bukan saja di kawasan nusantara ini, bahkan hampir di seluruh dunia. Tradisi membaca kitab maulid tidak hanya berlaku di peringatan maulid Nabi Muhammad Saw saja, melainkan juga pada bulan-bulan dan dalam berbagai kesempatan.

Imam Ahmad dalam Musnad-nya, menyebutkan sebuah riwayat dari Ibnu Mas’ud (Yang diterima melalui perawi-perawi yang terpercaya), “Apa-apa yang dianggap haq (benar) oleh sebagian besar umat Islam, itulah yang diridlai Allah, dan apa-apa yang dianggap bathil (salah) oleh sebagian besar umat Islam, ia bathil (salah) di sisi Allah.”

Ulama Penyusun Kitab Maulid

Tak terhitung banyaknya ulama yang menulis kitab-kitab yang berkenanan dengan maulid Ditulis dalam berbagai bentuk penulisan baik prosa maupun puisi. Ada yang singkat, sedang, dan ada pula yang panjang lebar. Menurut As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki dalam kitabnya Hawl al-ihtifal bi Dzikra al-maulid an-Nabwiy as-Syarif, karena banyaknya ulama yang menulis kitab maulid, sulit untuk memerincinya. Tentunya tidak bisa dikatakan ulama yang satu lebih utama/mulia daripada yang lainnya. Meskipun demikian, kata beliau selanjutnya, sebagian kitab itu memang lebih utama dibandingkan yang lainnya.

Berikut ini akan disebutkan sebagian saja dari mereka, terutama dari para huffadz al-hadits (para penghafal hadits) dan imam-imam terkemuka. Meskipun hanya sebagian kecil dari seluruh ulama yang telah menulis tentang tema ini, sesunggunya itu cukup menjadi petunjuk bagi akal pikiran umat Islam akan keutamaan dan kemuliaan Maulid Nabi Saw.

Berikut nama-nama yang disebutkan oleh As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki :
  1. Al-Imam Al–Muhaddits Al-Hafidz Abdurrahman bin Ali, yang lebih terkenal dengan sebutan Abu-Al Faraj Ibnu Al-Jauzi (w.597 H), dengan kitab Maulidnya yang masyhur, dinamakan Al-‘Arus. Kitab ini dicetak di Mesir berulang kali.
  2. Al-Imam Al-Muhaddits Al-Musnid Al-Hafidz Abu Al-Khatab Umar bin Ali bin Muhammad, yang terkenal dengan sebutan Ibnu Dahyah Al-Kalibi (w. 633 H). Beliau mengarang suatu kitab maulid yang tahqiq (editing) yang amat berfaedah yang dinamakan At-Tanwir fi Maulid Al-Basyir an-Nadzir.
  3. Al-Imam Syeikh Al-Qura’ wa Imam Al-Qira’at Al-Hafidz Al-Muhaddits Al-Musnid Al-Jami’ Abul Khair Syamsudin Muhammad bin Abdullah Al-Juzuri As-syafi’I (w.660 H.) Kitab maulidnya dalam bentuk manuskrip berjudul Urf At-Ta’rif bi Al-Maulis Asy-Syarif.
  4. Al-Imam Al-Kabir wa Al-‘Alim Asy-Syahir Hafidz Al-Islam wa ‘Umdah Al-Anam wa Marja’ Al-Muhadditsin Al-‘Alam Al-Hafidz Abdul Rahim bin Husain bin Abdul Rahman Al-Mishri, yang terkenal dengan Al-Hanzh Al-'Iraqi (725-808 H). Maulidnya yang mulia dinamakan Al-Maurid Al-Hana dan telah disebutkan oleh banyak Hafidz sperti Ibnu Fahd dan As-Suyuthi.
  5. Al-Imam Al-Muhaddits Al-Hafidz Muhammad bin Abi Bakar bin Abdillah Al-Qisis Ad-Dimasyqi Asy-Syafi’I, yang terkenal dengan sebutan Al-Hafidz bin Nashiruddin Ad-Dimasyqi (777-842 H). Beliau adalah ulama yang terkenal membela Ibnu Taimiyah. Beliau telah menulis beberapa kitab maulid, diantaranya Jami’ Al-Atsar fi Maulid An-Nabiy Al-Mukhtar dalam 3 jilid, Al-Lafdz Ar-Raiq fi Maulid Khair Al-Khalaiq berbentuk ringkasan. Maurid Ash-Shadiy fi maulid Al-Hadi.
  6. Al-Imam Al-Muarrkih Al-Kabir wa Al-Hafidz Asy-Syahir Muhammad bin Abdul Rahman al-Qahiri, yang terkenal dengan sebutan Al-Hafidz As-Sakahwi (831-902 H) yang mengarang kitab Adh-Dhau Al-Lami’ dan ktab-kitab lain. Kitab maulid yang disusunnya adalah  Al-Fakhr Al-‘Alawi fi Al-Maulid An-Nabawiy. Beliau menyebutnya dalam kitab yang lain dengan Adh-Dhau Al-Lami’.
  7. Al-‘Allamah Al-Faqih As-Sayyid Ali Zainal Abidin As-Samhudi Al-Hasani, pakar sejarah dari Madninah Al-Munawwarah (w. 911 H). Kitab maulidnya yang ringkas dinamakan Al-Mawarid Al-Haniyah fi Maulid Kahir Al-Bariyyah. Kitab ini ditulis dengan khat nasakh (salah satu gaya tulisan Arab) yang cantik dan indah. Kitab ini bisa didapat di perpustakaan-perpustakaan Madinah, Mesir, dan Turki.
  8. Al-Hafidz Wajihuddin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad Asy-Syaibani Al-Yamani Az-Zabidi Asy-Syafi’I, yang terkenal dengan sebutan Ibnu Diba’i. Beliau lahir pada bulan Muharram 866 H dan meninggal dunia pada hari Jumat 12 Rajab 944 H, adalah seorang Imam di zamannya dan termasuk ulama puncak nan masyhur di kalangan ahli hadits. Beliau telah membaca Shahih Bukhari lebih dari seratus kali, dan pernah membacanya sekali sampai khatam dalam waktu 6 hari. Subhanalllah..beliau telah menysuun maulid yang amat masyhur dan dibaca di seluruh dunia, yakni Maulid Ad-Diba’iy. Maulid ni juga telah diberi syarah oleh Al-Muhaddits As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki.
  9. Al-‘Allamah Al-Faqih Al-Hujjah Syihabuddin Ahmad bin Hajar Al-Haitami (w.9741 H). Beliau adalah mufti madzhab Syafi’i di Makkah Al-Mukarromah. Beliau telah mengarang kitab Maulid yang sederhana (71 pasal) dengan tulisan (khat) yang jelas, bisa didapat di Mesir dan Turki. Beliau memberinya judul Itman An-Ni’mah ‘Ala Al-‘Alam bi Maulid Sayyidi Waladi Adam. Selain itu beliau juga menulis satu kitab maulid yang ringkas yang telah diterbitkan di Mesir dengan nama An-Ni’mah Al-Kubra ‘Ala Al-‘Alam fi Maulid Sayyidi Waladi Adam. Syeikh Ibrahim Al-Bajuri telah mensyarahinya dan dinamakan Tuhfah Al-Basyar ‘Ala Maulid Ibnu Hajar.
  10. Al-’Allamah Al-Faqih As-Syaikh Muhammad bin Ahmad Asy-Syarbini Al-Khatib (w. 977 H.) Kitab maulidnya dalam bentuk manuskrip sebanyak 50 halaman dengan tulisan yang kecil tetapi tetap dapat dibaca.
  11. Al-‘Allamah Al-Muhaddits Al-Musnid Al-Faqih As-Syaikh Nuruddin Ali bin Sultan Al-Harawi yang terkenal dengan sebutan Al-Mula Ali Al-Qadri (w. 1014 H), yang mensyarah kitab Al-Misykat. Beliau telah mengarang kitab maulid dengan judul Al-Maulid Ar-Rawi fi Al-Maulid An-Nabawiy. Kitab ini juga telah ditahqiq dan diberi syarah oleh Al-Muhaddits As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki dan dicetak di Mathba’ah As-Sa’adah Mesir tahun 1400 H/1980 M.
  12. Al-‘Allamah Al-Muhaddits Al-Musnid As-sayyid Ja’far bin Hasan bin Abdul Karim Al-Barzanji, mufti madzhab Syafi’I di Madinah Al-Munawwarah. Ada perbedaan mengenai tahun wafatnya, 1177 H atau 1184 H. Beliau merupakan penyusun maulid yang sangat masyhur, yakni Maulid Al-Barzanji. Sebagian ulama menyatakan judul sebenarnya adalah ‘Iqd Al-Jauhar fi Maulid an-Nabiy Al-Azhar. Ini merupakan maulid paling luas tersebar di negara-negara Arab dan negeri-negeri muslim lainnya, di timu dan barat. Bahkan dihafal dan dibaca oleh orang Arab ‘Ajam pada pertemuan-pertemuan mereka.
  13. Al-‘Allamah Abu  Barakat Ahmad bin Muhammad bin Ahmad Al-‘Adawi, yang terkenal dengan sebutan ad-Dardir (w. 1201 H.) Kitab maulidnya yang ringkas telah dicetak di Mesir dan terdapat syarah yang luas terhadapnya oleh Asy-Syaikh Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad Al-Baijuri atau Al-Bajuri (w. 1277 H).
  14. Al-‘Allamah Asy-Sayikh Abdul Hadi Naja Al-Abyari Al-Mishri (w. 1305 H) beliau mengarang kitab maulid yang ringkas, masih dalam bentuk manuskrip..
  15. Al-Imam Al-Arif billah Al-Muhaddits Al-Musnid As-Sayyid Asy-Syarif Muhammad bin Ja’far Al-Kattani Al-Hasani (w. 1345 H) Kitab maulidnya berjudul Al-Yumn wa Al-Is’ad bi Maulid Khair Al-‘Ibad dalam 60 halaman, telah diterbitkan di Maghribi pada tahun 1345 H.
  16. Al-‘Allamah Al-Muhaqqiq Asy-Sayikh Yusuf An-Nabhani (w.1350 H.) Kitab maulidnya dalam bentuk susunan bait dinamakan Jawahir An-Nazhm Al-Badi’ fi Maulid Asy-Syafi’i diterbitkan di Beirut.
Disamping nama-nama ulama di atas, seorang ulama besar yaitu Al-Imam Al-‘Allamah Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, juga menyusun sebuah kitab maulid yang berjudul Simthud Dhuror. Saat ini kitab maulid  ini sangat populer ditengahtengah masyarakat Islam di Indonesia pada umumnya. Di samping kitab maulid Al-Barzanji, yag memang jauh lebih dulu tersebar di pelosok Nusantara. Kitab Simthud Dhuror tediri dari 13 pasal. Setiap pasal menerangkan hikayat Nabi Muhammad Saw secara berurutan. Almarhum Habib Husein bin Anis al-Habsyi (cucu Al-Habib Ali yang berdomisili di Solo Jawa Tengah) menyebutkan bahwa kitab Simthud Dhuror ditulis oleh Habib Ali ketika usia beliau menginjak 68 tahun. Paragraf awal didiktekan pada hari Kamis 26 Safar 1327 H. dan Pada hari Kamis, 10 Rabiul Awwal, kitab ini telah disempurnakan semuanya. Kemudian pada tanggal 27 Sya’ban 1327 H, Habib Umar membawakan naskah Simthud Dhuror untuk dibacakan di hadapan makam kakek beliau yakni baginda Nabi Muhammad Saw di Madinah.

Kita patut bersyukur karena kita masih diberi kekuatan untuk memperingati dan merayakan Maulid Rasulullah Saw, terlebih jika kita diberi anugerah untuk bisa menikmati rasa cinta kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw. Namun, sungguh indah dan baik apabila hal itu mampu kita landasi semangat untuk menapaki jejak beliau, “Katakanlah (Hai Muhamad): Jika kalian benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali-Imran:31).

Dengan merenungi sejarah perjalanan hidup dan akhlak mulia beliau, maka akan menambah kecintaan kita, sehingga dari sinilah timbul kesadaran untuk mau memuliakan beliau dan menghidupkan sunnah-sunnah beliau.

Memang kadang kala, sekali waktu kita sebagai seorang muslim tidak mengenal nabinya. Seumpama kita mengenal betul beliau siapa Rasulullah Saw dan menyadari siapa diri kita jika tanpa Rasulullah Saw. Tetapi mari kita yakini, maka pasti kita semua akan sangat cinta dan memuliakan beliau Saw dengan segala daya upaya.

Semoga gema sholawat Nabi bisa terus kita kumandangkan. Di tiap majelis, musholla, langgar-langgar, masjid dan berbagai tempat mubarok. Dari semua usia dan umur, serta berbagai profesi bersama-sama menggemakan sholawat di bumi Indonesia. Apapun kitab maulid yang dibaca, semoga senantiasa menumbuhkan rasa cinta kita kepada Nabi Muhammad Saw dengan harapan semakin menampakkan kita sebagai pribadi muslim yang penuh cinta kepada sesama, orang tua, kerabat, tetangga, agama, nusa, dan bangsa. Amin. Wallahu a’lam

*Penulis adalah murid Al-Ustadz Al-Habib Sholeh bin Ahmad Al-Aydrus Malang. Penulis buku “Kelahiran Muhammad Saw Sang Nabi Kekasih Allah” (Kado Ilahi yang Dinanti).
Buletin Al Huda edisi 3 tahun lalu 

ahadan.blogspot.com

Minggu, 08 Desember 2013

Kenangan Indah


Allah tabaraka wata’ala berfirman: “Dan jadikanlah untukku buah tutur kata yang baik di (kalangan) orang-orang yang datang kemudian!”QS As Syu’ara’:84.
Nabi Ibrahim alaihissalam memohon kepada Allah agar sebutan dan tuturan baik tentang dirinya langgeng di kalangan generasi-generasi yang akan datang sesudahnya karena beliau sangat senang jika itu bisa betul-betul terjadi dan menjadi kenyataan yang sebenarnya. Hal ini mencakup permohonan kelanggengan dan menutup amal secara sempurna serta permohonan berupa tersebarnya pujian baik di mana pasca ia wafat, maka ini merupakan menu bagi rohnya karena pujian baik akan mengantarkan manusia yang telah mengenal (sosoknya) untuk mendo’akannya sebagai penghargaan atas kesucian hati, kesempurnaan tauhid, kepasrahan diri, pengorbanan dan kesuksesannya menyempurnakan kalimat-kalimat yang diujikan kepadanya.
Sungguh Allah ta’ala telah menjadikan para nabi dan rasul alaihimussalaam berasal dari anak keturunan Nabi Ibrahim as. Mereka senantiasa menyebutnya dan begitu pula halnya dengan umat-umat pengikut mereka. Dan kiranya sebutan beliau juga langgeng di kalangan umat Nabi Muhammad Saw dalam berbagai situasi:
1.      Amalan-amalan haji
2.      Idul Adha dan muatan di dalamnya yang berupa penyembelihan hewan kurban
3.      Do’a Iftitah dalam shalat
4.      Shalawat Ibrahimiyyah sesudah tahiyyat akhir
5.      Berkhitan karena mengikuti millah nya
Itu semua bukan sekedar untuk kenangan tetapi karena di dalamnya bisa diambil pelajaran dan mengingat sesuatu hal yang memang perlu terus diulang-ulang sebagaimana dikatakan; [Dalam pengulangan terjadi penetapan (pemantapan) dan dalam penetapan terjadi penerangan/pencerahan].
Imam Malik, seperti disebutkan oleh Imam Ibnul Araby, mengatakan:
(Bukanlah sebuah masalah ketika seseorang suka jika mendapatkan pujian baik serta terlihat sedang melakukan amalan orang-orang shaleh selama itu bertujuan karena Allah yaitu yang disebut pujian yang baik)[3]
Dalam bahasan lain:
(Sesungguhnya hal itu tidak masalah jika awalnya karena Allah. Maksudnya tujuan pertama beramal adalah karena Allah) sebagaimana dikatakan: “Jika niat dasar sudah benar maka tidak akan terhalang (terpengaruh) kejadian-kejadian (atau hal apapun)”
Sungguh Allah telah berfirman: “...Dan Aku telah melimpahkan atas dirimu kasih sayang yang datang dari-Ku, dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku”QS Thoha:39.
Sungguh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah membimbing kita dalam do’a beliau: “...dan jadikanlah diriku disenangi dalam hati para hambaMu...” serta sabda beliau: “Sebutkanlah kebaikan-kebaikan orang-orang mati kalian dan tahanlah diri kalian dari (menyebutkkan) keburukan mereka”HR Abu Dawud-Turmudzi .
Imam Syathibi mengatakan: Imam al Ghazali berprinsip bahwa masalah ini atau yang serupa telah keluar dari keikhlasan dengan catatan apabila menjadikan aktivitas (beramal) terasa lebih ringan (lebih bersemangat) baginya disebabkan tujuan-tujuan ini. Adapun Imam Ibnul Araby lebih memilih sebaliknya (tetap dalam koridor ikhlas)[4]. Dalam masalah seperti inilah kita jadi mengingat arahan Sayyidi al Walid Abuya al Habib Muhammad Alawi al Maliki al Hasani yang mengatakan: “Masing-masing tergantung kondisinya”. Kemudian jika seseorang memuji anda dengan pujian yang baik maka termasuk tatakramanya adalah anda mengucapkan: “Segala puji bagi Allah Dzat Yang Menampakkan yang baik dan Menutup yang buruk”
=والله يتولى الجميع برعايته=




[1]  تفسير التحرير والتنوير 146/9
[2]  تفسير التحرير والتنوير 82/9
[3] Tafsir at Tahrir wat Tanwir 9/146
[4] Tafsir at Tahrir wat Tanwir 9/82

الذِّكْرُ الْجَمِيْلُ
قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَاكِيًا عَنْ دُعَاءِ إِبْرَاهِيْمَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ:
[وَاجْعَلْ لِيْ لِسَانَ صِدْقٍ فِى اْلآخِرِيْنَ] الشعراء:84.
سَأَلَ اللهَ تَعَالَى إِبْرَاهِيْمُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ بَقَاءَ لِسَانٍ صَادِقٍ وَذِكْرٍ لَهُ حَسَنٍ فىِ الْأَجْيَالِ الْآتِيَةِ مِنْ بَعْدِهِ لِأَنَّهُ يَرْغَبُ فِى تَحَقُّقِهِ وَوُقُوْعِهِ فِى نَفْسِ الْأَمْرِ. وَهَذَا يَتَضَمَّنُ سُؤَالَ الدَّوَامِ وَالْخِتَامِ عَلَى كَمَالِ الْعَمَلِ وَطَلَبِ نَشْرِ الثَّنَاءِ عَلَيْهِ حَيْثُ يَتَغَذَّى بِهِ الرُّوْحُ بَعْدَ مَوْتِهِ لِأَنَّ الثَّنَاءَ عَلَيْهِ يَتَعَدَّى دُعَاءَ النَّاسِ لَهُ جَزَاءَ مَا عَرَفُوْهُ مِنْ زَكَاءِ نَفْسِهِ وَكَمَالِ تَوْحِيْدِهِ وَإِسْلاَمِ وَجْهِهِ وَتَضْحِيَتِهِ وَإِتْمَامِهِ الْكَلِمَاتِ الَّتِي ابْتُلِيَ بِهَا.
وَقَدْ جَعَلَ اللهُ تَعَالَى فِى ذُرِّيَّتِهِ أَنْبِيَاءَ وَرُسُلاً يَذْكُرُوْنَهُ وَتَذْكُرُهُ الْأُمَمُ التَّابِعَةُ لهم وَيُخْلَدُ ذِكْرُهُ لَدَي اْلأُمَّةِ الْمُحَمَّدِيَّةِ فىِ شَتَّى الْمَوَاضِعِ مِنْهَا:
1-           أَعْمَالُ الْحَجِّ
2-           عِيْدُ الْأَضْحَي وَمَا فِيْهِ مِنْ ذَبْحِ الْأُضْحِيَّةِ
3-           دُعَاءُ الْإِفْتِتَاحِ فِى الصَّلاَةِ
4-           الصَّلاَةُ الْإِبْرَاهِيْمِيَّةُ بَعْدَ التَّشَهُّدِ الْأَخِيْرِ
5-           الْإِخْتِتَانُ اتِّبَاعًا لِمِلَّتِهِ
وَلَيْسَ ذَلِكَ لِمُجَرَّدِ الذِّكْرَي بَلْ فِيْهِ أَخْذُ عِبْرَةٍ وَتَذْكِيْرٌ فِيْمَا فِيْهِ شَأْنُ التَّكْرِيْرِ وَقَدْ قِيْلَ: (فِى التَّكْرِيْرِ يَحْصُلُ التَّقْرِيْرُ وَفِى التَّقْرِيْرِ يَحْصُلُ التَّنْوِيْرُ)
قَالَ ابْنُ الْعَرَبِي :قَالَ مَالِكٌ: لاَ بَأْسَ أَنْ يُحِبَّ الرَّجُلُ أَنْ يُثْنَي عَلَيْهِ صَالِحًا وَيُرَي فِى عَمَلِ الصَّالِحِيْنَ إِذَا قَصَدَ بِهِ وَجْهَ اللهِ وَهُوَ الثَّنَاءُ الصَّالِحُ[1]. وَفِى عِبَارَةٍ أُخْرَى: إِنَّهُ لاَ بَأْسَ بِذَلِكَ إذا كَانَ أَوَّلُهُ للهِ ايْ القَصْدُ الْأَوَّلُ مِنَ الْعَمَلِ للهِ تَعَالَى كَمَا قِيْلَ: (إِذَا صَحَّ أَصْلُ النِّيَّةِ لَمْ تَعْتَرِضْهُ الْعَوَارِضُ) وَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى: [وَأَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِّنِّيْ وَلِتُصْنَعَ عَلَى عَيْنِيْ] طه:39.
وَقَدْ أَرْشَدَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فىِ دُعَائِهِ [...وَاجْعَلْنِي مَحْبُوْبًا فِى قُلُوْبِ عِبَادِكَ...] وَفِي قَوْلِهِ: [اذْكُرُوْا مَحَاسِنَ مَوْتَاكُمْ وَكُفُّوْا عَنْ مَسَاوِئِهِمْ] رواه أبو داود والترمذى.
قَالَ الشَّاطِبِي: (...وَقَدِ الْتَزَمَ الْغَزَالِي فِيْهَا وَفِى أَشْبَاهِهَا أَنَّهَا خَارِجَةٌ عَنِ اْلإِخْلاَصِ لَكِنْ بِشَرْطِ أَنْ يَصِيْرَ الْعَمَلُ أَخَفَّ عَلَيْهِ بِسَبَبِ هَذِهِ الْأَغْرَاضِ وَأَمَّا ابْنُ الْعَرَبِي فَذَهَبَ إِلَى خِلاَفِ ذَلِكَ[2]).
وَفِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ يُذَكِّرُنُا تَوْجِيْهُ سَيِّدِي الْوَالِدُ أَبُوْيَ الْحَبِيْبُ مُحَمَّدٌ عَلَوِي الْمَالِكِي الْحَسَنِي حَيْثُ يَقُوْلُ: كُلٌّ عَلَى حَسَبِ حَالِهِ. ثُمَّ مِنَ الْأَدَبِ إِذَا أَثْنَي عَلَيْكَ إِنْسَانٌ بِذِكْرٍ جَمِيْلٍ  أَنْ تَقُوْلَ لَهُ: الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَظْهَرَ الْمَلِيْحَ وَسَتَرَ الْقَبِيْحَ.
=والله يتولى الجميع برعايته=

WWW.NURULHAROMAIN.ORG

Tidak Ada Alasan merasa Aman


بسم الله الرحمن الرحيم


Allah tabaaraka wata’ala berfirman:
“Dan bacakanlah kepada mereka tentang orang yang telah Kami berikan kepadanya  ayat-ayat kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), Kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), Maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat.
Dan kalau kami menghendaki, sesungguhnya kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya...”QS al A’raf:175-176.
Sesungguhnya do’a pertama yang diajarkan Allah kepada para hambaNya yang berserah diri (kaum muslimin), yaitu orang-orang yang Allah telah Memilih mereka di antara makhlukNya, adalah firman Allah yang artinya; “Tunjukkanlah kami jalan yang lurus”, maksudnya teguhkan kami di atas jalan itu dan langgengkan ia untuk kami. Akan tetapi nikmat memang terkadang dihilangkan dari orang yang tidak bisa menghargai dan tidak pula mau menjaganya. Karena itulah Allah ta’ala berfirman: “...nanti Kami akan memberikan kepada mereka lanjuran nikmat yang lupa tersyukuri  dengan cara yang tidak mereka ketahui”QS al A’raf:182. Maksudnya Kami menyempurnakan nikmat-nikmat atas mereka sekaligus juga melalaikan mereka dari bersyukur, juga sebagaimana dikatakan oleh seorang penyair:
Kamu berbaik sangka kepada hari-hari kala ia (terus memberikan) kebaikan
Sementara kamu tidak pernah mengkhawatirkan hal yang datang bersama  takdir
Malam-malam berlalu dengan keselamatan sehingga kamu pun terbuai
Sehingga pada suatu malam terjadilah kekisruhan itu
Dan seperti dikatakan dalam kata hikmah:
Tidaklah burung itu terbang dan meninggi kecuali juga terbang dan (lalu) terjatuh
Bila demikian halnya maka tidak ada alasan apapun untuk merasa aman, melupakan kesyukuran, dan membiarkan diri untuk tidak memelas memohon perlindungan (Allah). Bagaimana mungkin kita merasa aman, sedangkan:
-           al Khalil Ibrahim as saja masih memohon kepada Allah: “...dan jauhkanlah diriku dan anak keturunanku dari menyembah berhala-berhala”QS Ibrahim:35.
-          Yusuf As Shiddiq saja memohon kepada Allah: “...wafatkanlah dakuu dalam keadaan berserah diri (kepadaMu) dan gabungkanlah diriku dengan orang-orang shaleh”QS Yusuf:101.
Jadi, betapa kita begitu membutuhkan, benar-benar sangat membutuhkan akan keteguhan dalam agama pada situasi masa yang genting ini. Dan sungguh dikatakan dalam kata hikmah:
Pasti ada pengganti bagi segala sesuatu yang anda tinggalkan
Tetapi tidak ada pengganti bagi Allah, jika kamu meninggalkanNya
Jika dunia masih menyisakan agama bagi seseorang
maka segala sesuatu yang terlepas darinya sama sekali tidaklah membahayakan
Adalah Sufyan at Tsauri rahimahullah mengatakan:
Tidaklah seorang merasa aman dari bahaya agama kecuali agama itu tercabut (darinya)
Dan tidak ada pilihan bagi seorang muslim yang terbina kecuali harus meneguhkan hatinya atas islam, sesuatu yang telah ditetapinya pada saat ini dengan menjalankan hal-hal yang telah direkomendasikan pada taushiah kami terdahulu sehingga ia memiliki dua simpanan besar yang mahal harganya berupa ISTIQAMAH dan ISTIZADAH (terus mencari tambahan) supaya nikmat-nikmat itu langgeng baginya, tidak merasa takut akan kehilangan sekaligus diberikan tambahan nikmat-nikmat yang belum pernah diberikan sehingga iapun tidak perlu khawatir tidak akan bisa mendapatkannya, serta datang pula dari Allah sesuatu yang sama sekali tidak terlintas dalam hatinya, disertai permohonan yang terus menerus kepada Allah dalam suasana sendiri atau bersama orang lain, berupa;
Ya Tuhan kami, jangan sesatkan hati kami setelah Engkau Memberikan petunjuk kepada kami. Dan anugerahkan kepada kami rahmat hanya dari sisiMu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi rahmat”
Ya Allah, sesungguhnya saya memohon kepadaMu keteguhan dalam urusan, tekad bulat dalam kebenaran. Saya memohon kepadaMu bisa mensyukuri nikmatMu, Saya memohon kepadaMu kebaikan ibadah kepadaMu. Saya memohon kepadaMu hati yang selamat (dari penyakit). Saya memohon kepadaMu lidah yang jujur. Saya memohon kepadaMu kebaikan segala sesuatu yang Engkau mengetahuinya. Saya memohon perlindungan kepadaMu dari keburukan segala sesuatu yang Engkau Mengetahuinya.  Dan saya memohon ampunan atas dosa (ku) yang Engkau mengetahuinya. Sesunguhnya Engkaulah Maha Mengetahui hal-hal yang gaib”
Wahai Dzat yang meneguhkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agamaMu!”
=والله يتولى الجميع برعايته=

لاَ سَبِيْلَ إِلَى الْأَمْنِ
قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى:                                                                                      [وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِيْنَ. وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ.] الأعراف: 175-176.
إِنَّ أَوَّلَ دُعَاءٍ عَلَّمَهُ اللهُ تَعَالَي عِبَادَهُ الْمُسْلِمِيْنَ الَّذِيْنَ اصْطَفَاهُمْ مِنْ بَيْنِ خَلْقِهِ هُوَ قَوْلُهُ تَعَالَى: [اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ] اي ثَبِّتْنَا عَلَيْهِ وَأَدِمْهُ لَنَا ,وَلكِنَّ النِّعْمَةَ قَدْ تُسْلَبُ مِمَّنْ لاَ يَعْرِفُ قَدْرَهَا وَلاَ يَرْعَاهَا وَلِذلِكَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: [سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لاَ يَعْلَمُوْنَ] الأعراف:182. اي نُسْبِغُ عَلَيْهِمُ النِّعَمَ وَنُنْسِيْهِمُ الشُّكْرَ كَمَا قَالَ الشَّاعِرُ:
(أَحْسَنْتَ ظَنَّكَ بِالْأَيَّامِ إِذْ حَسُنَتْ# وَلَمْ تَخَفْ سُوْءَ مَا يَأْتِي بِهِ الْقَدَرُ)
(وَسَالَمَتْكَ اللَّيَالِي فَاغْتَـــــــرَرْتَ بِهَا # وَعِنْدَ صَفْوِ اللَّيَالِي يَحْدُثُ الْكَدَرُ)
وَكَمَا قِيْلَ: مَا طَارَ طَيْرٌ وَارْتَفَعَ إِلاَّ كَمَا طَارَ وَقَعَ
فَإِذَنْ لاَ سَبِيْلَ إِلَى اْلأَمْنِ وَإِغْفَالِ الشُّكْرِ وَتَرْكِ الْإِبْتِهَالِ فِى الْحِفْظِ بِحَالٍ. وَكَيْفَ نَأْمَنُ وَإِبْرَاهِيْمُ الْخَلِيْلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ يَقُوْلُ: [...وَاجْنُبْنِيْ وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ] إبراهيم: 35. وَيُوْسُفُ الصِّدِّيْقُ يَقُوْلُ: [تَوَفَّنِيْ مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِيْنَ] يوسف:101. فَمَا أَحْوَجَنَا أَمَسَّ الْحَاجَةِ إِلَى الثَّبَاتِ فِى الدِّيْنِ فِى هَذَا الْعَصْرِ الرَّاهِنِ وَقَدْ قِيْلَ:
(لِكُلِّ شَيْءٍ إِذَا فَارَقْتَهُ عِوَضٌ# وَلَيْسَ للهِ إِنْ فَارَقْتَ مِنْ عِوَضِ)
(إِذَا أَبْقَتِ الدُّنْيَا عَلَى الْمَرْءِ دِيْنَهُ # فَمَا فَاتَهُ مِنْهَا فَلَيْسَ بِضَائِر)
وَكَانَ سُفْيَانُ الثَّوْرِي رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى يَقُوْلُ: (مَا أَمِنَ أَحَدٌ عَلَى دِيْنِهِ إِلاَّ سُلِبَ)
وَمَا عَلَى الْمُسْلِمِ الْوَاعِي إِلاَّ أَنْ يُثَبِّتَ قَلْبَهُ عَلَي مَا عَلَيْهِ فىِ الْحَالِ مِنَ الْإِسْلاَمِ بِمَا ذُكِرَ مِنْ تَوْصِيَتِنَا السَّابِقَةِ حَتَّي يَظْفَرَ بِالْكَنْزَيْنِ الْعَزِيْزَيْنِ اللَّذَانِ هُمَا الْإِسْتِقَامَةُ وَالْإِسْتِزَادَةُ فَتَدُوْمُ لَهُ النِّعَمُ وَلاَ يَخْشَي زَوَالَهَا وَتَتَزَايَدُ لَهُ النِّعَمُ الَّتِي لَمْ تُعْطَ فَلاَ يَخْشَي فَوَاتَهَا وَيَأْتِي مِنَ اللهِ مَا لَمْ يَكُنْ فِى بَالِهِ مَعَ دَوَامِ ابْتِهَالِهِ إِلَى اللهِ تَعَالَى حَيْثُ يَقُوْلُ فِى خَلَوَاتِهِ وَجَلَوَاتِهِ [رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ] [أَللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِى اْلأَمْرِ وَالْعَزِيْمَةَ عَلَى الرُّشْدِ, وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ وَأَسْأَلُكَ حُسْنَ عِبَادَتِكَ وَأَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيْمًا وَأَسْأَلُكَ لِسَانًا صَادِقًا وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ إِنَّكَ أَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوْبِ] [يَا مُثَبِّتَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ]
=والله يتولى الجميع برعايته=
WWW.NURULHAROMAIN.ORG

Minggu, 03 November 2013

Meneguhkan Hati demi berlari dari Fitnah Agama

Meneguhkan Hati Demi Berlari dari Fitnah Agama 

 بسم الله الرحمن الرحيم
 تَثْبِيْتُ الْقَلْبِ لِلْفِرَارِ مِنْ فِتَنِ الدِّيْنِ قَالَ اللهُ تَعَالَى: [أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوْا أَنْ يَقُوْلُوْا آمَنَّا وَهُمْ لاَ يُفْتَنُوْنَ]العنكبوت:1. مَا أَحْوَجَنَا أَمَسَّ الْحَاجَةِ إِلَى الثَّبَاتِ فِى الدِّيْنِ فِى هَذَا الزَّمَانِ الْمَوْسُوْمِ بِزَمَنِ الْفِتَنِ اَيْ فِتَنِ الدِّيْنِ حِيْنَ اخْتَلَطَ الْخَيْرُ بِالشَّرِّ وَرَقَّتْ الدِّيَانَةُ وَقَلَّتْ الأَمَانَةُ وَضَعُفَ الْيَقِيْنُ وَكَثُرَتْ الْجَرَاءَةُ عَلَى الْمَعَاصِي وَالْمُجَاهَرَةُ بِهَا وَشَاعَ تَعَدِّي الْحُدُوْدِ وَانْتِهَاكُ الْمَحَارِمِ , وَقَدْ قِيْلَ: (زَمَانٌ كَأَهْلِهِ وَأَهْلُهُ كَمَا تَرَي) يُفْتَنُ فِيْهِ الْمُسْلِمُ فَلاَطَاقَةَ لَهُ لِمُقَاوَمَتِهِ يُصْبِحُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِيْ كَافِرًا وَيُمْسِيْ مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا بِمَعْنَي أَنَّ شَخْصِيَّتَهُ أَصْبَحَتْ مُبْلَوَّرَةً لاَ مُتَمَيِّزَةً عَنْ غَيْرِهِ إِذْ يَكُوْنُ فِى آنٍ عَلَى عَمَلِهِ الْإِسْلاَمِيِّ وَفِي آنٍ آخَرَ عَلَى خِلاَفِهِ دُوْنَ اعْتِرَافٍ عَلَى أَنَّهُ آثِمٌ فِيْهِ بَلْ قَدْ يُجَاهِرُ بِهِ وَصَدَقَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَيْثُ يَقُوْلُ:[[كُلُّ أُمَّتِيْ مُعَافًى إِلاَّ الْمُجَاهِرِيْنَ وَإِنَّ مِنَ الْجِهَارِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً ثُمَّ يُصْبِحُ وَقَدْ سَتَرَهُ اللهُ فَيَقُوْلُ: عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللهِ عَلَيْهِ]] متفق عليه. وَكَانَ مِنَ الْمَفْرُوْضِ أَلاَّ يَفْعَلَ ذَلِكَ بَلْ كَمَنْ وَصَفَ بِهِ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي قَوْلِهِ: [[مَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَتُهُ فَهُوَ مُؤْمِنٌ]] رواه الطبراني . اي تَسُرُّهُ حَسَنَتُهُ لاَ مِنْ حَيْثُ كَوْنُهاَ عَمَلَهُ بَلْ مِنْ حَيْثُ أَنَّ اللهَ وَفَّقَهُ لَهاَ وَتُسِيْئُهُ سَيِّئَتُهُ مِنْ حَيْثُ أَنَّهُ اكْتَسَبَهَا وَخَالَفَ أَمْرَ اللهِ لَهُ بِتَرْكِهَا وَيَلْزَمُ هَذا الْمَعْنَي لِئَلاَّ يَغْتَرَّ بِعَمَلِهِ وَلاَ يَعْتَمِدَ عَلَيْهِ. وَلِلْمُسْلِمِ الْوَاعِيْ مَوْقِفُهُ لِمُوَاجَهَةِ هَذِهِ الْفِتَنِ السَّائِدَةِ وَتَثْبِيْتُ قَلْبِهِ بِمَا أَشَارَ إِلَيْهِ قَوْلُهُ تَعَالَى فىِ سُوْرَةِ الْأَنْفَالِ (45): [يَآأَيُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْا إِذَا لَقِيْتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوْا وَاذْكُرُوا اللهَ كَثِيْرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ] مِنْ أَنَّ اْلإِكْثَارَ بِذِكْرِ اللهِ تَعَالَى عِنْدَ لِقَاءِ الْعَدُوِّ لِقِتَالِهِمْ مَا يُثَبِّتُ الْقَلْبَ وَكَذلِكَ عِنْدَ مُوَاجَهَةِ الْفِتَنِ الَّتِي لاَ بُدَّ أَنْ نَقَعَ فِيْهَا وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ. وَأَهَمُّهُ تَثْبِيْتًا لِلْقَلْبِ فِى أَرْبَعِ خِصَالٍ: 1- الصَّلاَةُ بِلَوَازِمِهَا الْأَرْبَعَةِ: إِقَامَتِهَا وَالْمُحَافَظَةِ عَلَيْهَا وَإِدَامَتِهَا وَالْحُضُوْرِ وَالْخُشُوْعِ فِيْهَا. 2- الدُّعَاءُ مِنْ حَيْثُ أَنَّهُ سِلاَحُ الْمُؤْمِنِ. فَكَانَ لِزَامًا عَلَيْهِ أَنْ لاَ يَتْرُكَ مَا وَرَدَ فِى طَلَبِ الثَّبَاتِ وَالتَّثْبِيْتِ بَعْدَ التَّشَهُّدِ الْأَخِيْرِ فىِ الصَّلاَةِ. 3- الإِسْتِغْفَارُ الْمَصْحُوْبِ بِالتَّوْبَةِ كَمَا أَشَارَ إِلَيْهِ قَوْلُهُ تَعَالَى: [...وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا]النصر:3. وَذَلِكَ لِإِزَاحَةِ نُكَتِ الْقَلْبِ السَّوْدَاءِ مِنَ الذُّنُوْبِ حَتَّي يَحْصُلَ التَّثْبِيْتُ وَاللهُ تعَالَى غَافِرٌ اي لِمَا مَضَي وَغَفَّارٌ وَإِنْ تَكَرَّرَتْ وَغَفُوْرٌ وَإِنْ عَظُمَتْ. 4- تِلاَوَةُ الْقُرْآنِ لِجَلاَءِ صَدَأِ الْقَلْبِ لِأَنَّ الْقَلْبَ يَصْدَأُ كَمَا يَصْدَأُ الْحَدِيْدُ. حَتَّي إِذَا تَحَلَّي الْمُسْلِمُ الْوَاعِيْ بِهَذِهِ الْخِصَالِ عَلَى سَبِيْلِ التَّكْرِيْرِ تَخَلَّي عَنْهُ التَّكْدِيْرُ وَحَصَلَ التَّقْرِيْرُ وَتَجَلَّي عَنْهُ التَّنْوِيْرُ مَعَ مَا طَيَّبَهُ بِالصَّلاَةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالتَّكْثِيْرِ فَثَبَّتَهُ اللهُ تَعَالَى بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فىِ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِى اْلآخِرَةِ . =والله يتولى الجميع برعايته= 

Allah tabaraka wata’ala berfirman: “Apakah manusia menyangka akan dibiarkan (begitu saja hanya karena) mereka telah mengatakan: “Kami telah beriman” dan (lantas) mereka tidak akan mendapatkan cobaan”QS al Ankabut:1. Betapa kita benar-benar sangat membutuhkan akan keteguhan dalam agama pada zaman yang diidentifikasi sebagai zaman fitnah. Yaitu fitnah-fitnah agama ketika kebaikan bercampur aduk dengan keburukan; rasa beragama kian menipis, sifat amanah semakin berkurang, keyakinan melemah, banyak perilaku maksiat dilakukan dengan berani (lancang) dan (bahkan) secara terang-terangan, serta tindakan melewati batas dan pelanggaran terhadap larangan agama terjadi di mana-mana, sungguh telah dikatakan: “Pelaku adalah potret masa. Sementara pelakunya bisa anda saksikan (sendiri seperti apa)”, di mana dalam zaman seperti ini seorang muslim bisa (saja) terkena fitnah, tak ada kekuatan sama sekali baginya untuk melawan sehingga pada waktu pagi hari ia mukmin dan sore hari sudah menjadi seorang kafir atau sore hari ia masih seorang mukmin dan pagi hari sudah menjadi seorang kafir dalam artian kepribadiannya menjadi kacau balau (mublawwarah), bukan kepribadian yang istimewa dibandingkan orang lain. (mengapa demikian?) karena dalam satu waktu ia berada dalam aktivitas islami dan pada waktu lain justru melakukan hal yang berlawanan dengan islam tanpa mengakui bahwa ia telah berbuat dosa, bahkan terkadang malah sengaja menyiarkannya.
Benarlah Rasulullah Saw yang bersabda: “Seluruh umatku dimaafkan kecuali orang-orang yang sengaja menyiarkan dosa. Dan sesungguhnya termasuk menyiarkan dosa adalah jika seseorang melakukan suatu perbuatan di malam hari kemudian memasuki waktu pagi mendapati Allah Swt benar-benar menutupinya, lalu ia (malah) bercerita (kepada orang lain): “Tadi malam aku melakukan ini dan itu” semalaman Allah menutupinya dan pada pagi harinya ia justru ia membuka penutup Allah atas dirinya” (Muttafaq alaih) , padahal semestinya ia tidak melakukan hal tersebut, tetapi seharusnya seperti orang yang disebutkan Rasulullah Saw: “Barang siapa senang dengan kebaikan dirinya dan susah karena keburukannya maka dialah orang yang beriman”(HR Thabarani) .
 Maksudnya ia bergembira karena kebaikannya, bukan karena kebaikan itu sebagai amalnya, tetapi dari sisi sesungguhnya Allah telah memberinya taufiq (pertolongan) bisa melakukannya. Dan merasa sedih karena keburukannya dari sisi kenapa ia mesti melakukan keburukan itu sekalipun melanggar perintah Allah kepadanya berupa agar keburukan itu ditinggalkan. Memahami makna hadits dengan poin ini penting agar seseorang tidak tertipu dan bergantung kepada amalnya. Bagi seorang muslim terbina harus mengambil sikap memerangi fitnah yang sudah menggejala ini. Ia harus melakukan usaha meneguhkan hatinya seperti diisyaratkan oleh firman Allah dalam QS al Anfaal 45: “ Wahai orang-orang yang beriman jika kalian berjumpa (berperang) dengan kelompok (kaum kafir) maka berteguh hatilah dan banyaklah berdzikir kepada Allah agar kalian senantiasa meraih kemenangan”, yaitu bahwa memperbanyak dzikir kepada Allah saat berhadapan dan berperang dengan musuh bisa menjadikan hati teguh. Dan begitu pula halnya dengan saat menghadapi fitnah-fitnah di mana kita tidak mungkin menghindarkan diri darinya karena fitnah justru lebih berat daripada pembunuhan. Dan hal terpenting yang bisa meneguhkan hati berada dalam empat perkara:
 1. Shalat dengan empat konsekwensinya yaitu mendirikan, menjaga, melanggengkan dan melakukannya dengan khusyu’.
 2. Do’a karena ia adalah senjata orang beriman. Maka mesti baginya agar tidak meninggalkan do’a yang warid yang dibaca setelah tasyahhud akhir dalam shalat tentang mencari keteguhan dan peneguhan.
3. Istighfar yang dibarengi dengan taubat sebagaimana diisyaratkan oleh firman Allah: “...dan memohonlah ampunan kepadaNya karena sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat”QS An nashr:3. Itu dilakukan demi menghilangkan noda-noda hitam dalam hati akibat dosa-dosa sehingga akhirnya ia mendapatkan peneguhan. Allah Maha Mengampuni dosa yang telah lampau, Maha Pengampun akan dosa-dosa meski berulang dan Maha Pengampun meski dosa besar.
4. Membaca Alqur’an untuk menjernihkan karat hati karena sebagaimana besi, hati juga bisa berkarat. Dan ketika seorang muslim terbina telah secara konsisten berhiaskan empat hal tersebut maka ia akan bersih dari kekeruhan, mendapatkan kestabilan lalu pencerahan yang disertai pula dengan harum wangi bacaan shalawat yang diperbanyaknya sehingga lalu Allah pun Memberinya keteguhan dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan dunia dan akhirat.
  =والله يتولى الجميع برعايته= 
 
www.nurulharomian.org